Daerah

Isu Tambang dan Proyek Ramai Dibela Aktivis dan Mahasiswa, Kebutuhan Dasar Warga Sepi Suara

 

GORONTALO – Di tengah antrean Pertalite yang mengular hingga berjam-jam di sejumlah SPBU di Kota Gorontalo, muncul pertanyaan dari masyarakat yang diarahkan kepada kalangan mahasiswa dan aktivis. Warga menilai ada ketimpangan sikap dalam menyuarakan persoalan publik di daerah ini. Ketika isu pertambangan emas tanpa izin (PETI), desakan penindakan hukum, hingga proyek pemerintah yang diduga bermasalah mencuat, mahasiswa dan aktivis kerap turun ke jalan.

Namun, saat persoalan menyentuh kebutuhan dasar warga sehari-hari, seperti krisis antrean BBM, belum terlihat aksi serupa. Dampak antrean BBM sudah dirasakan langsung masyarakat. Mulai dari Sopir angkutan umum hingga pedagang keliling yang menggunakan motor, kehilangan separuh penghasilan karena waktu kerja habis di antrean. Dari pantauan awak media di tingkat eceran, Pertalite dijual Rp25 ribu hingga Rp30 ribu per botol.

Spekulan bahkan mulai memborong Pertamax hingga stok di SPBU habis setiap hari. Harga kebutuhan sehari-hari ikut terdorong naik. Di sisi lain, berbagai dugaan penyimpangan distribusi juga belum terjawab, mulai dari kendaraan bertangki modifikasi, pengisian berulang, pembelian dengan jeriken, hingga dugaan penyalahgunaan barcode BBM subsidi milik warga.

Namun, di tengah situasi itu, belum ada gelombang aksi mahasiswa maupun aktivis yang mendesak penertiban distribusi BBM atau mempertanyakan langkah aparat dan pemerintah daerah. Kondisi ini memunculkan kesan di tengah masyarakat bahwa gerakan mahasiswa dan aktivis di Gorontalo selektif dalam memilih isu.

Persoalan PETI, proyek bermasalah, dan desakan penindakan terhadap pihak tertentu dinilai lebih cepat direspons dengan aksi turun ke jalan dibanding persoalan sosial yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Padahal, krisis BBM menyentuh hampir semua lapisan masyarakat: sopir angkutan, pedagang, petani, nelayan, ojek, hingga pekerja harian yang bergantung pada kendaraan untuk mencari nafkah.

Masyarakat berharap mahasiswa dan aktivis, yang selama ini dikenal sebagai penyambung suara rakyat, juga hadir mengawal persoalan kebutuhan dasar warga. Kehadiran mereka dinilai penting untuk mendorong pemerintah, Pertamina, dan aparat penegak hukum bertindak lebih cepat.

Pertanyaan masyarakat ini menjadi catatan bagi gerakan mahasiswa dan aktivis di Gorontalo. Keberpihakan pada kepentingan publik diuji bukan hanya pada isu besar yang menarik perhatian dan menghasilkan uang, tetapi juga pada persoalan sehari-hari yang paling dirasakan rakyat kecil.

Hingga berita ini disusun, redaksi masih berupaya meminta tanggapan dari organisasi kemahasiswaan dan kelompok aktivis di Gorontalo terkait sorotan masyarakat tersebut.

Bagikan:

Artikel Terkait

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *