KILASPERS.COM – Kelangkaan Pertalite di Kota Gorontalo memicu antrean panjang di berbagai SPBU hingga mencapai tiga jam. Kondisi ini tidak hanya menyulitkan pengendara, tetapi juga memukul perekonomian masyarakat kecil, terutama sopir angkutan umum yang kehilangan waktu produktif.
Pada Selasa (13/10/2026), antrean panjang terpantau di sejumlah SPBU seperti SPBU Andalas, SPBU eks Jalan Panjaitan, dan SPBU Jalan Jenderal Sudirman. Pengendara harus bersabar menunggu giliran untuk mendapatkan BBM bersubsidi yang kian sulit diperoleh.
Pendapatan Sopir Angkot Anjlok
Imran Jaini, seorang sopir mikrolet, mengungkapkan bahwa pendapatannya turun drastis akibat antrean berkepanjangan. Yang biasanya mampu mengantongi Rp300 ribu per hari, kini hanya memperoleh sekitar Rp150 ribu saja. Imran mulai mengantre sejak pukul 08.00 WITA namun hingga siang hari belum juga mendapat giliran.
“Pengaruh sekali, Pak,” keluhnya. Waktu yang seharusnya digunakan untuk mencari penumpang justru habis dalam antrean. Padahal, ia memerlukan 15 hingga 20 liter Pertalite setiap hari untuk mengoperasikan kendaraannya.
Harga Eceran dan Kebutuhan Pokok Melonjak
Kelangkaan di SPBU mendorong maraknya penjualan Pertalite eceran dengan harga selangit. Depot dan kios eceran kini menjual Pertalite per botol dengan harga Rp25 ribu hingga Rp30 ribu, jauh di atas harga resmi.
Kenaikan harga BBM ini berimbas pada biaya distribusi dan transportasi barang, yang akhirnya mendorong harga bahan pokok di tingkat konsumen ikut naik. Masyarakat menghadapi tekanan ganda: kehilangan waktu kerja sekaligus menghadapi lonjakan pengeluaran harian.
Dugaan Penyalahgunaan Distribusi BBM
Antrean berkepanjangan memunculkan berbagai dugaan penyimpangan. Warga mencurigai adanya pembelian oleh kendaraan dengan tangki modifikasi yang dapat menampung BBM dalam jumlah besar, termasuk penggunaan sepeda motor Suzuki Thunder untuk membeli BBM dalam volume tidak wajar.
Imran sendiri menceritakan pengalaman mencurigakan sekitar dua minggu sebelumnya. Saat hendak mengisi BBM di SPBU Sudirman, kuota barcode miliknya berkurang signifikan. Dari kuota harian 120 liter, tersisa hanya sekitar 60 liter, padahal ia merasa belum mengisi BBM hari itu. Petugas SPBU menyatakan barcode tersebut sudah digunakan sebelumnya, namun Imran membantah pernah meminjamkannya kepada siapa pun. Ia menduga barcode miliknya disalahgunakan tanpa sepengetahuannya.
Pemkot: Ini Persoalan Serius
Pemerintah Kota Gorontalo melalui Wali Kota H. Adhan Dambea dan Juru Bicara Jeffry Rumampuk menegaskan bahwa situasi ini bukan antrean biasa. “Jangan sampai masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam dalam antrean, sementara pada saat yang sama muncul dugaan penyimpangan dalam distribusi BBM bersubsidi dan penjualan kembali dengan harga yang jauh lebih tinggi,” tegas Jeffry.
Imran dan warga lainnya berharap pemerintah dan pihak terkait segera mengambil langkah konkret untuk mengurai antrean dan memperketat pengawasan distribusi BBM bersubsidi. Evaluasi mekanisme pembelian dengan barcode juga diminta agar penyaluran tepat sasaran.
Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak SPBU Sudirman, Pertamina, maupun aparat kepolisian terkait dugaan penyalahgunaan barcode, tangki modifikasi, dan pengisian berulang tersebut.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.