Daerah

Spekulan BBM Gorontalo Kini Incar Pertamax, Dijual Eceran Rp30 Ribu per Botol

Spekulan BBM Gorontalo Kini Incar Pertamax, Dijual Eceran Rp30 Ribu per Botol

– Praktik spekulasi bahan bakar minyak (BBM) di Gorontalo mengalami pergeseran pola. Jika sebelumnya para spekulan memburu Pertalite yang bersubsidi, kini mereka beralih ke Pertamax. BBM jenis nonsubsidi tersebut dibeli dalam jumlah besar di SPBU, lalu dijual kembali secara eceran dengan harga yang mencapai Rp30 ribu per botol ukuran besar.

Perubahan ini terjadi seiring dengan antrean panjang Pertalite yang kerap mengular berjam-jam di berbagai SPBU. Warga harus rela menunggu hingga tiga jam untuk mendapatkan giliran mengisi bahan bakar bersubsidi tersebut. Situasi inilah yang dimanfaatkan spekulan untuk meraup keuntungan dari masyarakat yang tidak memiliki waktu luang untuk mengantre.

Dampaknya, ketersediaan Pertamax di SPBU yang biasanya stabil kini mulai terganggu. Stok BBM nonsubsidi itu habis setiap hari karena diburu pembeli dalam jumlah besar yang diduga menjadi pemasok untuk kios-kios BBM eceran. Kondisi nozel Pertamax yang dulunya hampir selalu tersedia sepanjang hari kini sering kosong.

Jalur Pertamax di SPBU yang biasanya sepi antrean justru menjadi incaran baru bagi para spekulan. Mereka dengan mudah membeli BBM dalam volume besar, kemudian mengemasnya ke dalam botol-botol besar untuk dijual kembali di kios eceran. Harga jual yang jauh lebih tinggi dari harga resmi di SPBU memberikan margin keuntungan yang menggiurkan.

Masyarakat Semakin Terhimpit

Kelangkaan BBM di SPBU membuat masyarakat menghadapi beban berlapis. Sopir angkutan umum mengeluhkan penurunan pendapatan akibat waktu kerja habis untuk mengantre. Imran Jaini, seorang sopir mikrolet di Kota Gorontalo, mengungkapkan penghasilannya yang biasanya mencapai Rp300 ribu per hari kini hanya tersisa sekitar Rp150 ribu.

Warga yang beralih ke Pertamax untuk menghindari antrean panjang Pertalite juga ikut merasakan kesulitan. Pilihan BBM di SPBU menjadi semakin terbatas, sementara di tingkat eceran justru tersedia melimpah dengan harga yang tidak terjangkau. Bagi sebagian masyarakat yang terdesak, membeli BBM eceran dengan harga tinggi menjadi satu-satunya jalan agar tetap bisa menjalankan aktivitas sehari-hari.

Tingginya harga BBM eceran turut mendorong kenaikan ongkos transportasi dan harga berbagai kebutuhan pokok. Beban ekonomi masyarakat semakin berat di tengah kondisi yang belum kunjung membaik.

Pengawasan Masih Lemah

Pemerintah Kota Gorontalo melalui Juru Bicara Jeffry Rumampuk menegaskan bahwa situasi ini bukan sekadar persoalan antrean biasa. Pemkot menyoroti adanya dugaan penyimpangan dalam distribusi BBM serta praktik jual beli kembali dengan harga yang tidak wajar.

Perpindahan sasaran spekulan dari Pertalite ke Pertamax menunjukkan bahwa masalah distribusi BBM di Gorontalo belum tertangani secara menyeluruh. Pembelian BBM dalam jumlah besar secara berulang, baik menggunakan jeriken maupun kendaraan dengan tangki modifikasi, dinilai perlu mendapat pengawasan lebih ketat dari pengelola SPBU.

Selain itu, penjualan BBM secara eceran tanpa izin niaga juga perlu segera ditertibkan oleh instansi yang berwenang. Langkah ini penting agar pasokan BBM di SPBU dapat kembali tersedia untuk masyarakat umum dan harga di tingkat eceran tidak lagi dikuasai oleh para spekulan.

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pengelola SPBU, Pertamina Patra Niaga, maupun pihak kepolisian terkait habisnya stok Pertamax dan maraknya praktik penjualan eceran BBM tersebut.

Artikel Terkait

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar.

Tinggalkan Komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *